NalaCerita

Sebuah Cerita yang Mengisahkan Aroma seorang Pembalas Dendam

Seekor kucing terlihat sedang terduduk di tumpukan arang dingin bekas kebakaran kedai kopi dua hari lalu. Kucing itu memiliki corak warna serupa dengan arang itu, kecuali di beberapa bagian tubuhnya yang berwarna putih. Telinganya yang tak simetris, pendek sebelah karena pernah digunting pemiliknya sebagai hukuman karena ketahuan mencuri ikan itu sesekali bergoyang cepat. Mata coklatnya… Lanjutkan membaca Sebuah Cerita yang Mengisahkan Aroma seorang Pembalas Dendam

Nalalisis

Tulisan Nanggung Tentang Ketidaksepadanan Bang Ril

Menyoal tentang Chairil Anwar— agar lebih sok akrab kita panggil saja Bang Ril, tentunya tak akan bisa memakan waktu sebatang rokok. Siapa yang tidak mengenal puisi “Aku” yang terdapat di hampir semua buku pelajaran Bahasa Indonesia SMA. Sudah umum dirasa, dimana puisi “Aku” menjadi sebuah gambaran sikap individualistis yang dimilik Bang Ril. Ibarat memberikan judul… Lanjutkan membaca Tulisan Nanggung Tentang Ketidaksepadanan Bang Ril

MataNala

aku yang nulis ini sambil dengar lagu wali

Wak, aku pengen cerita sikit. Tadi aku kan di kos. Terus bosan kali kurasa. Pas duduk-duduk di kursi depan kamar, aku jadi kepikiran sesuatu. Aku kan dah janji sama diriku sendiri untuk ngelanjutkan blog ini kan, tapi agak malas rasanya mau mulai nulis lagi. Padahal minggu lalu itu optimis kali aku untuk rajin ngeblog. Tapi… Lanjutkan membaca aku yang nulis ini sambil dengar lagu wali

MataNala

Aku yang nulis ini sambil ngerokok samsu

Jadi tulisan kali ini sebenarnya untuk curhat. Jadi kayaknya aku make bahasaku sendiri aja lah ya. Untuk kelen tau, (walaupun ga penting-penting juga) aku itu udah jarang make bahasa ataupun logat kampungku semenjak disini. Disini itu di Pontianak. Kota dengan berbagai alasan untuk kembali. Halah, panjang kali muncong kau bilang kota dengan berbagai alasan kembali,… Lanjutkan membaca Aku yang nulis ini sambil ngerokok samsu

PuisiNala

Sementara Kita Berciuman dengan Hujan

Part I   Sekarang sudah masuk musim hujan. Dimana semua randu akan menghijau dari ranggasannya, dan pemandangan bulir air di kabel-kabel tiang listrik akan terlihat membosankan.   Aku suka melihat tempias air hujan yang menabrak jendela kamarku. Kaca yang awalnya bersih menjadi buram terkena embun dingin. Seketika menjadi kanvas yang memasrahkan dirinya untuk digores oleh… Lanjutkan membaca Sementara Kita Berciuman dengan Hujan

NalaCerita

TULISAN INI HARUSNYA PANJANG, TAPI KARENA BARU INGAT ADA TUGAS, JADI NANTI DILANJUT LAGI

Membahas dirimu, tak sedikit pun aku akan lupa. Aku bukanlah pengingat yang kuat, meletakkan korek yang baru saja kupakai saja aku lupa. Tetapi jika itu adalah tentangmu, tak akan terlewat sekecil apapun. Setiap gerak-gerik entah pun detak-detik yang kuhabiskan bersamamu menjadi sebuah akar yang menopang kakiku ketika ia sedang lemah-lemahnya. Setiap hujan datang, seringkali aku… Lanjutkan membaca TULISAN INI HARUSNYA PANJANG, TAPI KARENA BARU INGAT ADA TUGAS, JADI NANTI DILANJUT LAGI

NalaCerita

Sebuah Dongeng dari Abang untuk Adik Kesayangannya.

Teruntuk adikku, sebuah dipan tak akan ada artinya bila kau lebih suka tertidur di pelukku. Tubuhku keras, tak cocok dijadikan pelukan, sekalipun senderan. Ada baiknya kau memeluk bapak saja. Ia tampak butuh pelukan belakangan ini. Kau tak bisa berharap Ia mendapat pelukan dari mamak, sebab orang tua yang sudah tua dilarang untuk berpelukan, apalagi jika… Lanjutkan membaca Sebuah Dongeng dari Abang untuk Adik Kesayangannya.

MataNala

Aku yang Nulis Ini Sambil Ngunyah Jahe

Jadi beberapa hari ini hujan terus wak. Cocok kali untuk berpuisi. Kalo kelen tipe orang yang puitis-puitis gitu, November lah bulannya kelen. Tiap November pasti hujan terus sampe Guns n Roses bikin lagu November Rain. Biar makin dramatis, berpuisilah kelen pas malam-malam, diterangi remang lampu jalan, dan biarkan rintik air membasahi pipi untuk menyembunyikan air… Lanjutkan membaca Aku yang Nulis Ini Sambil Ngunyah Jahe

NalaCerita

Mimpi sebuah Kerikil

“Kita ini apa?” Tanyamu kepadaku membuka percakapan antara kita berdua. Asap yang mengepul terhembus dari bibir keringmu. Aku hanya terdiam mendengar pertanyaanmu. Kau pun tak menambahkan lagi. Kita terdiam untuk beberapa saat, khusyuk mendengar suara gerimis yang menyentuh tanah dan suara bara rokokmu yang meletik setiap bibir keringmu menarik hisapannya. Aku tak berani membuka percakapan… Lanjutkan membaca Mimpi sebuah Kerikil

Nalalisis

Membahas sebuah kerikil yang sebenarnya tidak goblok-goblok banget

Ketika membaca puisi dari Opung Sapardi, saya sedikit merasa terombang-ambing akan kiasan-kiasan yang seringkali digunakannya untuk menimbulkan efek “romantisme sehabis hujan”. Jika memperhatikan beberapa puisi beliau, seringkali ia menggunakan kata-kata seperti hujan, matahari, daun, angin, kolam, air, dan banyak lainnya. Mungkin sudah menjadi ciri khas Opung Sapardi untuk menggunakan frasa-frasa berbau alam yang indah dan… Lanjutkan membaca Membahas sebuah kerikil yang sebenarnya tidak goblok-goblok banget